Menuju DKI 1


Baru kemarin rasanya aku bertemu dua pasang kandidat gubernur DKI untuk menyampaikan beberapa rekomendasi dari teman-teman Penyandang disabilitas. Aku berkesempatan hadir pada saat dilaksanakannya debat kandidat menjelang pemilihan gubernur. Diakhir acara, pasangan Adang-Dani keluar gedung pertamakali dan langsung aku hadang untuk memberikan map yang berisi beberapa rekomendasi.
Berikutnya pasangan Fauzi Bowo dan Priyanto menyusul. Dengan mereka berdua terjadi interaksi dan mengeluarkan beberapa janji diakhir pembicaraan, Fauzi Bowo meminta izin untuk mendorong kursi rodaku keluar gedung. Hal itu dilakukannya di depan para wartawan yang terus mengikutinya. Pada saat mendorong itu ia berjanji mengundangku dan teman-teman jika ia terpilih nanti.

Hari pemilihan pun tiba. Ternyata pasangan Fauzi Bowo memenangkan pemilihan gubernur periode 2007-2012 bersama wakilnya Priyanto.
Seminggu kemudian aku ditelepon oleh teman untuk hadir di Balai Kota bertemu Fauzi Bowo. Pada saat bertemu itu Fauzi Bowo masih berkantor di ruangan wakil gubernur karena belum resmi dilantik menjadi gubernur terpilih. Di pertemuan itu dibahas mengenai berbagai hal  berkaitan dengan Penyandang disabilitas, aku sempat menitikberatkan mengenai transportasi publik dan bangunan publij di Jakarta yang harus aksesibel. Untuk bid, aku ambil contoh bis di Taiwan yang aksesibel namun simpel. Pada saat itu Fauzi Bowo berjanji tidak akan meresmikan gedung publik yang tidak aksesibel.
5 tahun hampir berlalu. Kondisi Jakarta tidak banyak berubah. Pembangunan yang ada masih belum banyak berpihak kepada Penyandang disabilitas. Belum lama ini aku melayangkan surat pembaca di sebuah media cetak yang isinya aku tujukan kepada gubernur agar kembali mengubah trotoar di dekat halte busway Matraman menjadi aksesibel kembali. Namun sampai beberapa hari lalu aku lewat di sana belum juga ada tindak lanjut.
Aneh sekali rasanya mencermati para elit yang pubya kewenangan atas pembangunan di negeri ini. Trotoar di depan halte Matraman merupakan trotoar yang aksesibel bagi aku untuk dapat naik busway.di halte tersebut. Namun kemudian entah dengan alasan apa diubah menjadi tidak aksesibel. Area sepanjang kurang lebih 1,5 meter yang awalnya hanya memiliki ketinggian 2,5 cm berubah menjadi 30 cm. Dengan geram aku lantas membuat surat pembaca untuk dimuat disebuah media cetak. Hasilnya belum nampak hingga hari ini. Aku tidak tahu apakah seorang Fauzi Bowo tengah sibuk mempersiapkan pencalonannya kembali di periode berikutnya ataukan memang pesanku tidak sampai kepadanya.
Mencermati kondisi ini, bagaimanakah periode kepemimpinan mendatang untuk DKI Jakarta. Apakah akan ada seorang gubernur yang dapat memikirkan nasib semua rakyatnya tanpa kecuali Penyandang disabilitas? Semoga!!!!

Posted from WordPress for Android

4 pemikiran pada “Menuju DKI 1

  1. Pada umumnya seperti itu, jika belum terpilih janjinya buanyak sekali, mereka tidak menyadari kalau janji adalah hutang dan akan ditagih diakhirat kelak. mereka dipanggil dengan sebutan Yang terhormat, tapi pada dasarnya mereka Tidak Terhormat. Pengemis masih jauh lebih terhormat dari pada mereka yang terhormat, lihat saja Jika kita memberi kepada Pengemis, mereka memanjatkan doa untuk kita, tapi mereka yang terhormat sewaktu mengemis suara pada kita, apa yang diberikan ? tidak ada, bahkan ucapan terima kasih pun tidak !

    wassalam
    zulfan effendi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s