Arsitektural Yang Minim Aksesibilitas


Di blog ini saya tidak bosan-bosannya membicarakan aksesibilitas baik transportasi maupun bangunan gedung. Transportasi yang sangat penting untuk mendukung mobilitas penyandang disabilitas dalam melakukan pekerjaan, sampai tahun ini masih belum berpihak kepada kelompok marginal ini. Busway yang awalnya diharapkan menjadi solusi, ternyata belum sepenuhnya mengikuti standar baik Nasional maupun Internasional.

Untuk mencapai haltenya saja sudah dihadapkan pada sulitnya menembus trotoar yang memiliki ketinggian antara 15-25 cm. Selanjutnya untuk menaiki ramp yang memiliki perbandingan 1:9, sangat sulit dilakukan bagi kebanyakan penyandang disabilitas.

Aksesibilitas pada hotel

Pada hari Kamis lalu saya berkesempatan meninjau aksesibilitas sebuah hotel yang akan dijadikan tempat penyelenggaraaan Konferensi tingkat ASEAN dalam rangka memeringati Hari Internasional Penyandang Disabilitas.  Walapun hotel tersebut hotel berbintang empat, tetapi sangat menyedihkan jika dilihat dari ketersediaan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Di setiap kamar Superior sama sekali tidak memiliki kamar mandi yang aksesibel. Di setiap Toilet yang ada di ruang pertemuan juga tidak aksesibel, pintu sangat sempit dan seperti biasa terbuka ke bagian dalam.

Saya sempat berbincang dengan pengelola hotel dan menanyakan kenapa hotel berbintang seperti ini tidak dilengkapi aksesibilitas fisik bagi penyandang disabilitas. Jawabnya sangat simpel, “karena jarang ada pengguna kursi roda yang menginap”. Dalam hati saya berkata, padahal undang-undang tidak mensyaratkan ada atau tidak pengguna, semua bangunan publik harus dilengkapi dengan aksesibilitas fisik bagi penyandang disabilitas.

Dalam sebuah kesempatan, saya sempat berbincang dengan Pak Bambang Eryudawan seorang arsitek yang konsen terhadap aksesibilitas. Di luar negeri, banyak pengelola gedung berlomba melengkapi bangunan mereka dengan aksesibilitas. Di sana mereka menyadari bahwa dengan menyediakan aksesibilitas akan mendatangkan keuntungan tersendiri, karena para Lansia banyak menikmati uang pensiun mereka dengan melakukan kegiatan di luar rumah untuk bersantai. Di Inggris, jika sebuah bangunan publik tidak menyediakan aksesibilitas, maka masuk pada kategori tindak pidana karena telah mendzalimi orang.

Perlahan tapi pasti, semoga banyak pihak mengerti akan kebutuhan penyandang disabilitas yang ingin mandiri dalam berkarya, mandiri dalam hidup berkota, mandiri dalam semua kegiatan dengan tersedianya aksesibilitas.

2 pemikiran pada “Arsitektural Yang Minim Aksesibilitas

  1. accsessibilitas ,,,
    negri ini masih belum bisa dibilang negri yang perduli kpada penyandang disabilitas,,,
    uud penca pun hanya tinggal sebatas uud saja,,,tanpa ada tindak lanjutnya,,,,

    ,,,

  2. Iya mas Ridwan kita masih harus terus berjuang untuk mensejakterakan para disable (penca) semoga dengan “Converence on ASEAN and Disablity” 2 hari dari 1-2 Des ’10 kemarin hasilnya akan memberikan pencerahan dan perbaikan bagi Penyadang Cacat di Indonesia. Paling tidak issu disability telah masuk kawasan ASEAN pasti ada Setressing buat indonesia. Semoga program kerja 5 tahun dari 2010-2015 bisa tercapai.

    Hari esok masih ada mentari bersinar.!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s