Wheelchair Tenis Indonesia Kehilangan Sang “Babeh”


Setelah selesai makan malam pada hari Senin, 07/06, Babeh, demikian teman-teman atlet tenis kursi roda memanggil Pak Charles Rampen, segera beranjak tidur setelah sebelumnya ia meminta dibangunkan pada pukul 22. Menjelang pukul 22 ia dibangunkan oleh anggota keluarganya namun, jasadnya sudah terbujur kaku.

Kabar kepergian Babeh segera menyebar ke teman-teman yang selama ini menjadi anak didiknya. Sebuah kabar yang sangat membuat saya terkejut karena tidak mendengar kabar sakitnya beliau. Terakhir saya sempat bertemu dengannya pada saat pertandingan eksibisi atlet-atlet wanita yang diorganisir oleh Himpunan Wanita Penyandang Cacat Indonesia, 15 Mei silam. Pada saat itu beliau mengajak saya untuk berlatih walaupun memakai kursi roda biasa. Saya tidak tahu bahwa pukulan-pukulan tersebut akan menjadi kenangan saya yang terakhir dengan Babeh.

Perjalanan Panjang Babeh

Pada tahun 1994 Babeh atau biasa juga dipanggil Pak Charlie didaulat oleh ITF dan juga Pelti untuk menjadi pelatih tenis kursi roda Indonesia. Dari sanalah ia mulai mencintai dunia Penyandang disabilitas (pengganti istilah penyandang cacat). Untuk lebih fokus dalam melatih, sampai-sampai ia relakan dirinya berhari-hari menggunakan kursi roda untuk beraktivitas di dalam dan luar rumahnya. Ia ingin dapat merasakan benar bagaimana seseorang beraktivitas dengan kursi roda. Akhirnya, ia pun melatih anak-anak didiknya menggunakan kursi roda.

Pada tahun 1999, Babeh sempat beberapa lamanya bermukim di Malaysia untuk melatih atlet-atlet di sana atas permintaan pemerintah Malaysia yang pada saat itu masih sering menimba ilmu kepada Indonesia.

Babeh merupakan pelatih yang telah berhasil menjadikan atlet Indonesia bersaing dengan Thailand di ASEAN Paragames setiap tahunnya. Dan pada Paralympic di Beijing, Idayani yang menjadi siswinya berhasil lolos kualifikasi dan ia dapat merasakan atmosfir pertandingan seluruh atlet dunia.
Babeh juga merupakan atlet yang memiliki dedikasi tinggi terhadap penyandang disabilitas. Ia rela tidak mendapatkan upah sepeser pun selama bertahun-tahun dalam melatih anak-anak didiknya. Bahkan yang lebih menghurukan lagi, ia rela berpisah dengan keluarganya yang bermukim di Amerika hanya karena kecintaannya kepada tenis kursi roda Indonesia. Beliau juga rela melepaskan kesempatan untuk menjadi pelatih di negeri Paman Syam tersebut. Sungguh sebuah pengorbanan yang sangat besar atas kecintaannya kepada tenis kursi roda Indonesia.

Kini cita-cita luhur memajukan tenis kursi roda Indonesia tertanam disetiap pundak atlet binaannya. Siapakah yang akan rela berlaku seperti beliau untuk meneruskan cita-citanya?
Jasad Babeh saat ini masih disemayamkan di rumah duka RS. Cikini menunggu putera-puterinya yang akan datang dari Amerika.
Selamat jalan Babeh, jasa-jasamu sungguh berarti untuk kami. Semoga Babeh tenang di alam sana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s