“3 Mas Ketir” dan Tuna Rungu


Oleh Harpalis Alwi.

Saya menerima pesan singkat (SMS) dari teman-teman tunarungu yang isinya agar kita berjuang menghentikan penayangan sinetron Mas Ketir di salah satu stasiun televisi swasta yang tayang setiap hari Senen dan Selasa pukul 7 malam. Alasannya, sinetron tersebut merendahkan dan menghina orang tunarungu.

Saya yang tidak pernah mengklik saluran televisi tersebut, mau tak mau ingin mengetahui dan menunggu sampai hari tayang tiba. Ternyata sinetron itu bercerita mengenai tiga orang yang salah satunya tunarungu. Dalam penampilan figur tunarungu selalu digambarkan hal-hal yang tekesan memperolok-olok orang tuli dan gagu. Karena itu, orang-orang tunarungu yang menonton dan mungkin juga keluarganya merasa tersinggung. Bagi orang tunarungu, mereka tak ingin diekspos. Mereka tidak memerlukan perhatian kalau hanya untuk diperolok-olok. Kaum tunarungu merasa tidak membutuhkan perhatian berlebih dalam penampilan kesehariannya. Kalau perlu, orang tunarungu selalu mengambil sikap diam (low profil) atau tidak menunjukkan ekpresi yang meminta perhatian sekitarnya.

Kendati tujuan sinetron tersebut mungkin baik, namun cara-cara mengekplorasi kekurangan atau kelainan fisik seseorang secara berlebihan untuk dipertontonkan kepada publik adalah tidak mendidik. Para penyandang kelainan fisik, baik tunarungu, tunanetra, tunagrahita maupun tuna daksa sudah merasa terbebani oleh kekurangan yang dialaminya, kalau tidak boleh ada yang mengatakan sebagai “aib” . Maka tidaklah pada tempatnya, aib seperti itu dimanfaatkan oleh pihak lain untuk kepentingan sesuatu yang tidak ada manfaatnya bagi si penyandang.

Dalam ekplorasi sikap, kelakuan dan penampilan penyandang kelainan fisik, orang tunarungu sangat dirugikan. Orang tunarungu selalu ditampilkan dengan kesan berolok-olok dan bahkan menjadi sasaran hinaan, caci maki dan penistaan. Lain halnya dengan orang tunanetra, boleh dikata tidak seorangpun di antara kita yang tega menghina atau memperlakukan orang tunanetra secara tidak wajar. Bahkan sosok tunanetra selalu ditampilkan dengan segala kelebihan yang dimilikinya. Saya mengapresiasi penampilan figur tunanetra dalam cerita film si Buta Dari Gua Hantu. Di situ, sosok tunenetra dilihat dari sisi kesaktiannya.

Tapi lain halnya tunarungu dan tunagrahita (keterbelakangan mental) melalui tayangan sinetron Wah Cantiknya beberapa waktu lalu, terkesan sekali peran yang dimainkan oleh Anjasmara itu mengolok-olok orang tunagrahita. Tidak demikian dengan sinetron Yoyo yang selalu dibenci dan biang kemarahan ayahnya, tapi berkat kesaktian simpul tali kolornya, ia memperlihatkan diri lebih.

Penyandang tunardaksa adalah yang sering ditampilkan dalam film dan sinetron, tetapi juga tidak memberi pencerahan bagi penonton malah memberi kesan sikap tega teganya menggelindingkan seorang tunadaksa di kursi roda dari tangga teratas hingga berguling guling sampai kelantai dasar sebuah gedung. Itukah yang ingin disampaikan, bahwa tunadaksa juga harus merasakan perlakuan yang sama yang dialami oleh orang lain atau untuk menunjukkan betapa teganya kita berbuat begitu kejam kepada orang yang tak berdaya yang duduk di kursi roda ?

Secara fisik orang tunarungu memang berbeda dengan orang tunanetra dan tunadaksa tetapi karena kelainannya pada masalah ketidakmampuan berkomunikasi secara wajar sesuai dengan standar masyarakat sekitar, maka dalam penampilannya memang sering mengundang olok-olok. Olok-olok datang karena masalah berkomunikasi yang dirasa aneh oleh masyarakat. Masyarakat menganggap orang tuli adalah tidak atau kurang mampu mendengar karena itu anggota masyarakat sering berbicara dengan keras dan berteriak padahal orang tunarungu tidak memiliki pendengaran. Betapa kerasnya suara, tidak akan mampu ditangkap oleh tunarungu. Kadangkala di samping teriakan-teriakan dibumbui pula dengan mimik yang mengolok-olok.

Dalam suatu kejadian yang menyedihkan, seorang anak tunarungu yang telah duduk di bangku kelas tiga SD diteriaki oleh sang guru karena belum juga memberikan jawaban. Padahal guru itu tahu kalau muridnya tunarungu. Saking emosinya guru itu, membentak dan meneriakinya dengan sikap marah. Akhirnya sang murid tunarungu itu emoh sekolah lagi, kembali mengembala kerbau. Ini sangat disayangkan, seorang anak tunarungu yang telah mampu dan berhasil duduk di kelas tiga SD umum, merupakan suatu kemajuan bagi bangsa ini, tetapi karena tidak adanya pengertian yang wajar dari masyarakat sehingga peluang untuk lebih baik menjadi sirna. Justru masyarakat dan pemerintah harus memberikan dukungan dan dorongan agar orang seperti anak tunarungu yang berjuang tegar itu harus didukung, tetapi malah akhirnya ia kembali kepada kesenangannya semula mengembala kerbau. Dia berpikir komunikasi yang mungkin hanyalah dengan kerbau bukan dengan guru atau anggota masyarakat lain.

Bicara pelan-pelan

Orang tunarungu tidak bisa mendengar suara karena alat dengarnya tidak berfungsi. Karena itu bila bicara dengan tunarungu tidak perlu dengan suara keras-keras apalagi dengan berteriak dan menghardik. Sekeras apapun suara tidak akan bisa ditangkapnya. Namun juga tidak perlu menggunakan cara dan mimik yang berlebihan sambil menggoyangkan kepala dan memonyongkan mulut atau anggota badan lainnya, yang sering terkesan berolok-olok.

Cara yang baik adalah berbicara pelan-pelan sambil membuka mulut lebar-lebar. Kalau perlu tidak usah bersuara sema sekali. Tunarungu akan membaca bibir.Tunarungu menginginkan pembicaraan secara wajar hingga mudah membaca bibir. Biasanya orang asing yang baru dikenalnya (yang tidak mengetahui dia tunarungu) akan bicara secara wajar, dan maksud bicara dengan orang itu mudah dipahami oleh tunarungu.

Memang akan sulit bagi tunarungu yang buta huruf untuk membaca bibir lawan bicaranya, hal demikian inilah yang mengundang kesan berolok-olok karena dia hanya akan memperlihatkan cara-cara yang terkesan lucu atau aneh. Namun yang demikian ini sekarang sudah agak jarang ditemui, karena sudah banyak anak-anak tunarungu sampai dewasa bersekolah di sekolah luar biasa bagian tunarungu dan sekolah umum hingga menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.

Bahasa Isyarat

Bahasa isyarat merupakan sarana berkomunikasi yang efektif bagi sesama tunarungu dan tunarungu dengan masyarakat. Sekarang kaum tunarungu Indonesia telah berupaya menguasai bahasa isyarat tunarungu baik di tingkat lokal maupun global dan internasional. Namun cara-cara orang tunarungu berkomunikasi dengan bahasa isyarakat inipun tidak ketinggalan menjadi bahan olok-olok masyarakat, karena kurang memahami esesinya tetapi hanya melihat penampilan yang terkesan menggelikan.

Padahal kalau ingin mendalami hakekat bahasa isyarat ini, anggota masyarakat akan memperoleh banyak kemudahan dan keuntungan. Baik dalam hal berkomunikasi maupun dalam bidang ilmu pengetahuan. Bila anda bepergian ke luar negeri tidak memahami bahasa asing, tidak usah gelisah seperti yang penulis alami. Di bandara Arlanda Stockhlom,Swedia petugas bandaranya (non tunarungu) menguasai bahasa isyarat lalu mengajak penulis bincang-bincang dan memandu penulis selama di bandara. Mungkin kita akan merasa kurang fasih melafalkan kata-kata asing, sedangkan dengan bahasa isyarat kita tidak perlu melafalkan kata-kata, cukup dengan isyarat-isyarat yang standar berlaku di lingkungan internasional, maka lawan bicara dari bangsa manapun bisa memahami maksud pembicaraan kita begitu sebaliknya.

Maka tidak mengherankan bila sekarang bahasa isyarat tunarungu sudah mulai digemari oleh genersi muda sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan bukan untuk bahan olok-olok. Di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Depok sekarang sedang diajarkan bahasa isyarat Indonesia dengan pengajarnya (tutornya) adalah tokoh-tokoh tunarungu dari organisasi Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia.

Presiden Taiwan, Ma Ying-jeou menggunakan bahasa isyarat tunarungu untuk memulai pidato sambutannya pada waktu acara pembukaan Deaflympics 2009 (Olimpiade) tunarungu di Taipei, Taiwan 5 September 2009. Penampilan Presieden Taiwan dengan menggunakan bahasa isyarat itu terkesan anggun dan menakjubkan, memberikan rasa gembira dan simpati masyarakat dunia, terutama dari kalangan tunarungu. Dan memang, bila kita mau memahaminya dengan mendalami, bahasa isyarat tunarungu dapat mengepresikan sebuah lagu atau puisi dengan indah hanya dengan isyarat dan gerakan-gerakan anggota tubuh secara teratur dan berirama.

Dan kisah film atau sinetron memang dimaksudkan sebagai hiburan, tetapi menghibur dengan melencehkan pihak lain tidaklah etis. Maka cukup beralasan kalau kelompok tunarungu Indonesia menyerukan perjuangan untuk menghentikan penayangan sinetron Mas Ketir itu.

Harpalis Alwi,
Pekerja Sosial, mantan Wartawan tinggal di Jakarta

Note: Harpalis Alwi ialah seorang Tuna rungu, saat ini ia menjabat sebagai Ketua II Pusat Pemilihan Umum Akses Penyandang Cacat (PPUA Penca)

2 pemikiran pada ““3 Mas Ketir” dan Tuna Rungu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s