Perjalananku Di Akhir Pekan


Berpacu dengan metro mini

Berjalan dengan menggunakan kursi roda di jalan raya menjadi tantangan tersendiri bagi saya bersama kedua kawan ketika hendak menghadiri  pelatihan Life Re-Programing di gedung DNIKS Tanamur.

Berangkat dari kawasan Pondok Bambu menuju halte Busway Kampung Melayu membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Kami bertiga sudah terbiasa mengayuh kursi roda di jalan raya menempuh jarak berkilo-kilo meter. Bahkan, sebelum Busway  diresmikan sebagai sarana transportasi kota yang aksesibel bagi penyandang disabilitas, saya dan kawan-kawan sudah menjelajah Jakarta, Bogor, Depok,  Tangerang dan Bekasi,  hanya dengan mengayuh kursi roda. Namun, sesudah koridor 4 dan 5 Transjakarta diresmikan, perjalanan saya dan kawan-kawan sedikit terbantu walaupun harus dengan bersusah payah.

Pada hari itu pun kami bertiga berangkat ke Tanamur pagi-pagi sekali agar bisa sampai di tujuan tepat pada waktunya. Naik dari halte Kp. Melayu (koridor 5), kami bertiga harus transit di halte Matraman walaupun dengan digotong oleh petugas keluar dari bis menuju halte, selanjutnya kami naik bis jurusan Dukuh Atas-Pulogadung  (koridor 4). Setelah sampai di Dukuh Atas 2, kami harus melanjutkan naik bis koridor 1 dengan terlebih dahulu melalui ramp  begitu panjang yang menghubungkan ke  halte Dukuh Atas 1. Selanjutnya kami naik ke arah kota untuk turun di halte Bank Indonesia. Dari sana kami harus sedikit mengayuh kembali kursi roda sepanjang k.l. 500 meter.

Sesampainya di gedung DNIKS, saya dan ke dua orang teman langsung naik ke lantai 2. Di sana saya bertemu seorang perempuan yang menyapa dengan ramah. Belakangan saya mengetahui bahwa perempuan tersebut adalah Mbak Eka yang telah membantu terselenggaranya acara pelatihan dan terapi oleh Bapak Darmawan.

Suasana ruangan begitu tenang dengan dipenuhi aroma terapi yang baru saja disiapkan oleh kru dari Omnividya. Kami bertiga merupakan peserta yang datang pertama kali sehingga bisa menyaksikan persiapan yang dilakukan.

Priyo kawan saya, mengutarakan perasaan senangnya berada di sana dibanding dengan tempat dan suasana pelatihan yang sebelumnya pernah ia temukan. Ia pun aktif  bertanya pada setiap sesi pelatihan. Padahal, sebelumnya ia merupakan seorang pendiam dan hanya menjadi pendengar setia.

Setelah selesai pelatihan, saya dan kawan-kawan kembali menuju halte Bank Indonesia untuk kembali ke Pondok Bambu. Kami bertiga keluar Tanamur sekitar pukul 16.30. Sampai di Pondok Bambu sudah sekitar pukul 20.

Pulangnya kami lebih memilih turun di halte TU-GAS karena tidak  mau berdesak-desakan dengan penumpang koridor 5 yang baru pulang dari Ancol.

Berjalan di malam hari rasanya lebih mengerikan dibanding siang hari. selain suasana jalan yang padat di akhir pekan, juga kurangnya penerangan lampu jalan membuat kami agak was-was dibuatnya. Namun, alhamdulillah setelah berjuang selama hampir 1 jam dari kawasan Pulogadung menuju Pondok Bambu, kami pun sampai dengan selamat.

Satu pemikiran pada “Perjalananku Di Akhir Pekan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s