Satu Dasawarsa GAUN 2000


Sepuluh tahun lalu tepatnya 4 Juni 2000 Alm. KH. Abdurrahman Wahid selaku Presiden kala itu mencanangkan Gerakan Aksesibilitas Umum Nasional 2000  disingkat GAUN 2000 yang diprakarsai oleh PPCI, HWPCI dan FKPCTI.

Berawal dari keperihatinan akan kondisi pembangunan di negeri ini yang belum berpihak kepada penyandang disabilitas maka, lahirlah GAUN 2000 sebagai tonggak perjuangan aksesibilitas di tanah air.

Stasiun kereta api Gambir menjadi pilot projek dengan dibangunnya berbagai fasilitas untuk penyandang disabilitas. Dari data yang saya lihat terdapat 21 sarana yang sengaja diciptakan untuk melayani penyandang disabilitas diantaranya tempat parkir, telepon umum, toilet, loket karcis, ruang informasi, lantai peron, dll. Termasuk petugas khusus yang telah ditraining guna melayani penyandang disabilitas.

Sepuluh tahun berlalu, GAUN 2000 hanya tinggal nama. Sesuai namanya “pencanangan” yang jika dilihat dalam KBBI berasal dari kata canang yang bermakna gong kecil (untuk memberi alamat, menguar-nguarkan pengumuman, dsb) suaranya pun seperti gong, lama-kelamaan suaranya menghilang secara perlahan.

Pak Bambang Eryudawan seorang Arsitek yang turut mendukung perjuangan aksesibilitas dalam satu kesempatan pernah mengatakan bahwa sepuluh tahun berlalu semenjak GAUN 2000 dicetuskan, perjuangan aksesibilitas seperti jalan di tempat. Tidak berlebihan rasanya jika membenarkan kalimat beliu mengingat aksesibilitas pada bangunan dan transportasi publik masih jauh dari peraturan standar aksesibilitas.

Ditengah gemuruh isu-isu besar bangsa ini muncullah sebuah gagasan untuk menghidupkan kembali GAUN 2000. Pada Focus Group Discussion yang digagas KOMNAS HAM pada tanggal 10 Mei lalu, Ibu Ariani (Ketua Umum HWPCI) melontarkan ide cemerlang untuk membangkitkan semangat GAUN 2000 dengan mengadakan wisata akses busway. Spontan gagasan tersebut mendapat respon positif dari Komnas HAM dan juga Persatuan Penyandang Cacat Indoensia (PPCI) sebagai payung organisasi kecacatan nasional.

Komnas HAM mendukung penuh kegiatan tersebut dan berharap mendapat dampak positif pada perjuangan aksesibilitas di tanah air. Rencananya kegiatan wisata akses busway akan dilaksanakan pada tanggal 3 Juni 2010 dengan menempuh beberapa rute. Peserta wisata terdiri dari empat jenis kecacatan yakni tuna daksa (pengguna kursi roda & tongkat), tuna rungu wicara, tuna netra dan tuna grahita. Semoga dari kegiatan tersebut berdaya guna bagi perjuangan aksesibilitas.

Dasar Hukum Aksesibilitas

  1. UUD 1945 Pasal 28 (h) ayat 2, pasal 28 (i) ayat 2
  2. UU RI No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang cacat
  3. UU RI No. 39 Tahun 99 Tentang HAM pasal 45(3) dan Pasal 41 (2)
  4. UU RI No. 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
  5. UU RI No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
  6. UU RI No. 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
  7. Permen PU No. 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan lingkungan
  8. Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 71 Tahun 1999 tentang Aksesibilitas bagi penyandang cacat dan orang sakit pada sarana dan prasarana perhubungan.
  9. Surat Edaran Menteri Bappenas No. 3064/M.PPN/05/2006 tentang Perencanaan Pembangunan yang memberi Aksesibilitas bagi penca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s