Antara Sosial dan Aturan


Hidup dalam keadaan tidak sempurna secara fisik merupakan hal yang tidak diinginkan oleh siapa pun. Namun, jika hal itu terjadi, bukanlah harus menyerah pada keadaan.

Evi Nurahmawati, 22, adalah seorang penyandang disabilitas asal Bandung. Ia mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya akibat kecelakaan. Saat ini ia bermukim di kawasan Cileunyi Kabupaten Bandung.

Beberapa waktu lalu melalui surat yang ia kirim melalui pos, ia mengirimkan permohonan untuk dapat tinggal di Sasana Bina Daksa Budi Bhakti Pondok Bambu. Ia beralasan tinggal di rumah tidak menjadikannya berkembang secara emosional dan juga kreativitas. Selain itu ia mengaku kedua orangtuanya tergolong berekonomi lemah.

Namun, sangat disayangkan keinginannya tersebut ditolak oleh Pimpinan Sasana  dengan alasan ia tidak memiliki KTP DKI Jakarta. Agak menyedihkan memang, namun, Sasana Bina Daksa Budi Bhakti merupakan milik Pemda DKI yang berada dibawah naungan Dinas Sosial DKI Jakarta sehingga persyaratan yang harus dipenuhi bagi yang ingin menjadi penghuninya ialah harus warga DKI atau memiliki KTP DKI.

Sasana Bina Daksa Budi Bhakti sendiri merupakan sub panti yang khusus melayani penyandang disabilitas paraplegia. Walaupun akhir-akhir ini berubah sesuai kebijakan kepala sasana yang silih berganti yang mengizinkan penyandang disabilitas lainnya yang berkursi roda boleh tinggal di sasana.

Di Jawa Barat sendiri belum memiliki panti/sasana khusus penyandang paraplegia. Maka dari itu, Evi yang mengetahui keberadaan Sasana Bina Daksa melalui teman saya yang tinggal di Bandung dengan sengaja menyampaikan keinginannya kepada pimpinan sasana.

Kasus Evi menjadi perhatian saya karena ia merupakan penyandang paraplegia. Seorang paraplegia sangat riskan dengan ulcus decubitus atau luka akibat tekanan. Jika seorang paraplegia duduk berlama-lama di kursi roda atau pun ia berbaring lama dengan tidak berpindah posisi lebih dari dua jam maka, di bagian tulang yang tertekan akan terjadi luka, yang jika dibiarkan berlarut-larut akan terjadi infeksi tulang yang bisa merenggut nyawanya.

Bagi seorang paraplegia yang sudah mengalami luka yang parah, ia diharuskan menjalani operasi bedah pelastik di RS Fatmawati. Ongkos yang harus dikeluarkan tentu tidaklah sedikit. Masa perawatan yang harus dijalani mencapai minimal 2 bulan, maksimal 1 tahun. Bayangkan, jika keadaan orang tersebut tidak mampu secara ekonomi  makan sudah barang tentu akan mendapat kesulitan untuk pembayaran biaya rumah sakit.

Atas pertimbangan tersebut, tentu tidaklah bijak rasanya untuk menolak kehadiran Evi di Sasana Bina Daksa Budi Bhakti. Karena jika ia dapat tinggal di Sasana, selain sebagai media pengembangan diri juga akan meringankan beban orangtuanya dalam membiayai kesehatan Evi.

Mudah-mudahan pemerintah memiliki solusi bagi masalah-masalah seperti ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s