Harus Diubah, Pendekatan terhadap Anak Penyandang Gangguan Intelektual


JAKARTA (Suara Karya): Pendekatan terhadap anak penyandang disabilitas inteligensi atau tunagrahita harus diubah. Kalau semula melalui pendekatan kelembagaan atau institutional approach, sekarang harus dengan pendekatan secara kekeluargaan atau family approach.
Demikian dikemukakan Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), Prof Haryono Suyono, dalam paparannya pada acara “Seminar dan Lokakarya Nasional Pemberdayaan Anak Disabilitas Inteligensia”, di Unversitas Negeri Jakarta (UNJ), Jakarta, kemarin. Dikatakan lebih lanjut, guna menangani permasalahan anak penyandang disabilitas inteligensi ini, semua instansi yang terkait harus terlibat, seperti Kementerian Sosial, Menko Kesra, serta DNIKS. “Semuanya harus mempunyai tanggung jawab bersama secara moral,” kata dia.
Kalau hanya menaruh para penyandang disabilitas intelegensi di panti-panti, itu sangat kurang efektif. Selain tidak memberi penghargaan, hal itu juga membuat mereka menjadi ketergantungan.
Penyandang disabilitas inteligensi atau tunagrahita, menurutnya, merupakan individu yang mengalami keterbatasan mental. Kondisi ini menyebabkan mereka mengalami hambatan dalam belajar, menyesuaikan diri, dan melakukan berbagai fungsi dalam kehidupannya. “Mereka juga merupakan kelompok paling marginal dalam kelompok penyandang cacat. Untuk itu, dibutuhkan upaya yang besar untuk memberdayakan penyandang disabilitas inteligensi agar dapat diterima dan dihargai masyarakat,” tutur Haryono.
Masih dari lokakarya, Pembantu Rektor I UNJ Prof Zainal Rafli mengemukakan, upaya yang dilakukan untuk memberikan layanan pendidikan kepada anak-anak penyandang disabilitas inteligensi merupakan salah satu tujuan nasional. “Yang termaktub pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa,” katanya.
Hal ini tentu tidak hanya terbatas pada warga masyarakat pada umumnya, tetapi juga termasuk yang mempunyai hambatan dalam hal belajar, dalam lingkungan sosial, maupun berbagai fungsi lainnya.
Dalam rangka ikut serta dan berpartisipasi dalam upaya tersebut, dikatakannya, UNJ melalui Jurusan Pendidikan Luar Biasa diharapkan mampu menyiapkan calon-calon pendidik yang kompeten. Dalam hal ini, tentunya pendidikan khusus bagi anak penyandang disabilitas inteligensi.
Acara lokakarya yang digelar bersama antara Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Yayasan Asih Budi, Federasi Nasional untuk Kesejahteraan Cacat Mental (FNKCM), serta DNIKS, Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial serta Kementerian Pendidikan Nasional tersebut diharapkan mampu menjalin kerja sama tripartit antara pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi. Semua itu dilakukan dalam melaksanakan upaya pemberdayaan anak penyandang disabilitas inteligensi. (Budi Seno)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s