Penyandang Disabilitas Minim Perhatian Publik


Beberapa hari yang lalu saya menulis sebuah judul posting “Sitkom 3 Mas Ketir Meresahkan Penyandang Disabilitas”. Kawan saya yang dengan sengaja membuat sebuah grup khusus di Facebook demi mengambil simpati masyarakat untuk mendukung penghentian sitkom tersebut sangat minim tanggapan. Lain halnya dengan isu-isu lain yang begitu cepat diserap dan ditanggapi oleh masyarakat.

Saya tidak begitu heran melihat gejala tersebut. Di Indonesia, mayoritas penduduk senang menyaksikan kesusahan orang lain, senang menertawai kesalahan orang lain, senang mengolok-olok kekurangan orang lain, senang mencari-cari kesalahan orang lain dan masih banyak kesenangan-kesenangan negatif lainnya.

Saya berani menyampaikan hal tersebut berdasarkan apa yang saya alami semasa hidup dengan alat bantu kursi roda. Tidak salah kawan saya Butong menyampaikan kegalauannya terhadap sitkom “3 Mas Ketir.” Sangat miris melihat tayangan sitkom dengan lakon cerita 3 (tiga) orang penyandang disabilitas sebagai bahan tertawaan.

Tuna netra membutuhkan ubin pemandu ketika berjalan seorang diri

Tuna netra membutuhkan ubin pemandu ketika berjalan seorang diri

Di dunia nyata, seorang tuna netra ketika berjalan seorang diri tanpa ubin pemandu haruslah diarahkan jalannya agar tidak terantuk atau menabrak sesuatu di depannya. Sedangkan di sitkom, dengan sengaja kawannya yang “tuna netra” ditinggalkan sehingga ia akan menabrak sesuatu ataupun masuk tercebur kolam. Dengan begitu si “tuna netra” akan menjadi bahan tertawaan penonton.

Bagaimana jika ada anggota keluarga Anda yang mengalami hal seperti di sitkom tersebut, lantas ditertawakan orang banyak? Tentu Anda akan merasa marah, bukan?

Bagaimana pula dampaknya terhadap anak-anak kecil yang masih belum mengerti apa-apa ketika menonton tayangan tersebut? anak kecil merupakan sosok polos yang sering menirukan sesuatu di dalam kehidupannya. Tidak mustahil ketika seorang anak yang kerap menonton tayangan negatif akan berdampak negatif pula dalam kehidupannya kelak.

Para penyandang disabilitas di negeri ini masih terus memperjuangkan hak-haknya demi kelangsungan hidup yang lebih baik. Saya jamin, kehidupan penyandang disabilitas tidak serupa dengan apa yang ditayangkan di sitkom “3 mas Ketir”. Para penyandang disabilitas di dunia nyata menyibukkan diri dengan prestasi-prestasi yang bisa mereka raih. Mereka ingin membangun citra penyandang disabilitas di negeri ini menjadi positif di mata masyarakat. Sudah selayaknya penyandang disabilitas diapresiasi positif di masyarakat, bukan sebaliknya mencitrakan penyandang disabilitas sebagai bahan tertawaan orang banyak.

Saya yakin, sedikit sekali diantara penonton sitkom yang mengetahui bahwa penyandang disabilitas mampu bermain tenis layaknya nondisabilitas (Robbin Ammerlan, Singo Kunaida adalah mereka juara dunianya), mampu mendaki gunung seperti yang telah dilakukan Mark Inglis,  Dr. Saharudin Daming seorang Komisioner HAM dan masih banyak para penyandang disabilitas lainnya yang berprestasi baik tingkat nasional maupun internasional.

Mari bantu penyandang disabilitas yang masih terdiskriminasi dan termarjinalkan ini untuk sejajar dengan warga masyarakat lainnya!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s