Cerita Untuk Dikenang


“Ada pertanyaan lain? Kalau tidak ada, kita lanjut dengan break 20 menit.” demikian ujar Pak Edy Zaqeus saat menutup sesi yang ia bawakan mengenai ‘Menyunting dan Memoles Naskah’.

sesaat kemudian beberapa peserta mulai keluar menuju selasar yang berada tepat depan pintu ruangan.

Setelah hampir semua peserta keluar, barulah saya mengikuti mereka. ketika keluar, saya mendapati Pak Her sedang duduk sambil menatap sesuatu di laptopnya. Melihatnya tidak sedang berbicara dengan siapapun, terbersit keinginan saya untuk bertanya kepada beliau, “Mohon maaf Pak, saya mau bertanya.” kata saya membuka obrolan dengan Pak Her Suharyanto.

“Saya mempunyai kebiasaan membuat kalimat yang panjang dengan maksud untuk memberikan informasi yang lengkap. Bagaimana menyiasatinya, ya, Pak?”

“Sekarang Anda harus bertanya kepada diri Anda kapan dan di mana bisa titik.” Demikian Pak Her menjawab, “alangkah lebih baik jika kalimat tersebut bisa dibagi menjadi beberapa kalimat, bisa dipecah dengan koma atau bahkan titik.”

Disaat saya baru akan melanjutkan pertanyaan berikutnya, tiba-tiba muncul Ibu Rina meminta foto bersama dengan Pak Her dan juga saya. melihat kami sedang berpose, lantas Pak Bono yang sedang asyik makan pun ikut bergabung dengan kami, begitu juga dengan Kevin yang tadinya bertindak sebagai juru foto, kini digantikan oleh Mbak Santi dan ia bergabung untuk foto bersama, “satu, dua, tii-ga” terdengar Mbak Santi memberi aba-aba dan sejurus kemudian terdengar bunyi ‘crek’ dan kilatan cahaya kamera memancar.

“Ok, terima kasih” ujar Ibu Rina kepada Mbak Santi.

Setelah berfoto bersama, akhirnya saya memutuskan pamit untuk mengambil makanan yang tersedia.

Di meja sudah tersedia teh dan kopi panas dan tiga jenis kue yang saya tidak ketahui namanya. saya mengambil dua jenis kue lalu mengambil teh. Pada saat mengambil cangkir, ternyata Ibu Grace sedang menuangkan teh ke dalam cangkirnya, “Pak Ridwan mau minum teh atau kopi?” tanya Ibu Grace seraya menawarkan bantuan untuk menuangkannya, “teh saja Bu, terima kasih.” jawab saya sambil mendekatkan cangkir kepada Ibu Grace. Kemudian saya menuangkan satu bungkus gula dan dua kreamer kedalamnya.

Setelah selesai, saya pun mencari tempat yang lengang untuk menikmatinya. baru beberapa saat, saya dihampiri kembali oleh Ibu Rina untuk foto bersama. kali ini pun personilnya hampir sama ada Ibu Rina yang berdiri di samping kiri saya, Kevin berdiri di samping Ibu Rina dan juga Pak Bono memosisikan diri di samping Kevin. Namun, kali ini bertambah Agung yang berdiri di samping kanan saya. yang kebagian mengambil gambar juga tetap Mbak Santi.

Ibu Rina, memang kalau saya perhatikan paling antusias mengabadikan setiap moment. Seingat saya saat itu sudah lebih ke tiga kalinya kami berfoto bersama.

Setelah selesai berfoto, masing-masing kembali menikmati hidangan, begitu juga dengan saya.

Setelah saya merasa cukup. Saya pun masuk ke ruangan. Di dalam saya mendapati Mesti sedang asyik menikmati hidangan. Ia hanya tersenyum saat saya melihat kearahnya. Ia satu-satunya peserta yang hanya mengerti orang berbicara bahasa Indonesia, tetapi ia hanya bisa menjawab dengan menggunakan bahasa Inggris, begitu karena ia lama tinggal di negeri Paman Sam.

Di tempat lain di sebelah kanan saya melihat Pak Bono sedang asyik berbincang dengan Pak Edy Zaqeus. saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan, karena suaranya tidak sampai terdengar ke telinga saya.
Beberapa saat kemudian, di depan sudah nampak Pak Wandi S. Brata Direktur Penerbit Gramedia berdiri dan memulai berbicara, “Bapak/Ibu sekalian apa ada yang akan Anda tanyakan?” tanyanya langsung membuka pembicaraan. Nampak beliau berbicara dalam gaya yang santai.

Beberapa saat dari peserta tidak ada yang menjawab atau pun mengacungkan tangan pertanda akan bertanya. mendapati itu Pak Wandi kembali bertanya, “Apa tidak ada yang mau bertanya? kalau tidak ada saya berterima kasih karena saya pun tidak ada yang akan saya bicarakan (sambil tertawa kecil).”

Tak lama Ibu Grace mengacungkan tangan, “Pak, tema apa saja buku yang laku di jual?”

“Tema apa saja Bu, yang penting marketble” jawab Pak Wandi dengan santainya.

Setelah itu barulah para peserta lain bergiliran mengacungkan tangan untuk bertanya seputar penerbitan. yang paling banyak bertanya diantaranya Ibu Rina. Beliau ini saya lihat memang orangnya eazy going sekali, jadi ia sangat lepas dalam hal apapun.

Mendengar kawan-kawan bertanya, saya pun ikut mengacungkan tangan,” Sekarang ini sedang hangat mengenai isu Global Warming, kaitannya dengan kertas sebagai bahan untuk membuat buku , apakah Gramedia menggunakan kertas apa adanya atau kertas daur ulang?” tanya saya kepada Pak Wandi.

Lantas beliau menjawa, “Sebagian kecil kami memakai kertas daur ulang, namun lebih banyak menggunakan kertas apa adanya kertas, karena harga daur ulang kertas yang cukup mahal. pertanyaan Anda bagus, sehingga kami pernah berpikir, mau dikemanakan bisnis penerbitan ini?” Pak Wandi mencoba menjelaskan keadaan dan langkah-langkah Gramedia dalam menghadapi kenyataan lingkungan yang semakin hari semakin memperihatinkan.

Pertanyaan-demi pertanyaan bermunculan dan Pak Wandi berusaha menjelaskannya dengan terperinci.

Tidak terasa waktu pun cepat berlalu hingga sampailah di penghujung acara.

Setelah Pak Wandi menutup sesinya, dilanjutkan dengan penutupan oleh Pak Andrias Harefa dengan menjelaskan visi beliau ke depan. Dan ada juga sebagai evalusi, kami diberikan quisioner. Setelah itu kami dibagi sertifikat tanda telah selesai mengikuti workshop. Yang menarik dari pembagian sertifikat ialah panitia menyerahkan sertifikat yang bukan milik kami. Setiap peserta harus menyerahkan sertifikat yang dipegangnya berdasarkan nama yang tercantum di dalamnya. Saya menerima sertifikat atas nama Ibu Emy Liana Dewi. Saya segera bergegas menuju meja Ibu Emmy, dengan tersenyum ia menyambut kehadiran saya, “selamat , ya, Bu. Sukse buat Ibu” ujar saya kepadanya sambil menyalami.

“Terima kasih Pak Ridwan, Selamat juga buat Pak Ridwan” ujar Ibu Emmy sambil memegang erat jabat tangan saya.

Demikian juga dengan kawan-kawan lainnya sibuk mencari nama pemilik sertiffikat yang dipegangnya. Suasana pun menjadi hangat dan mengharukan. Pada akhirnya kami semua satu per satu bersalaman sambil mengucapkan selamat. Itulah akhir pertemuan” Workshop Cerdas Menulis Buku Bestseller”.

(Tulisan ini saya persembahkan kepada: Ibu Endang Setyati, Pak Tantowi, , Pak Andrias Harefa, Pak Her Suharyanto, Pak Edy Zaqeus, Ibu Rina Dewi Lina, dan semua peserta Workshop. Sukses untuk semua)

3 pemikiran pada “Cerita Untuk Dikenang

  1. Senang sekali saya bisa ikut workshop Menulis buku best seller dan bertemu serta berkenalan dengan para peserta dengan latar belakang yang berlainan.

    Saya salut dengan kemauan dan motivasi yang kuat dari Mas Ridwan untuk terus maju. SEMANGAT!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s