Mohon Bantu Sebar Petisi Untuk Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta


Saya adalah pengguna kursi roda yang aktif berkegiatan di masyarakat.

Saya menjadi seorang dengan disabilitas karena trauma pada tulang belakang (spinal cord injury = SCI), yang menyebabkan kelumpuhan pada anggota gerak bagian bawah baik motorik maupun sensorik.

Anggota tubuh lainnya yang juga terganggu adalah fungsi aktifitas buang air kecil atau buang air besar. Akibatnya ketika waktunya sudah harus mengosongkan kantung kemih, urine akan keluar tanpa gejala sebelumnya, yang paling berat adalah ketika diare menimpa.

Bagaimana jika diare menyerang ketika saya atau teman-teman saya yang pengguna kursi roda berada di fasilitas public sedangkan di sana tidak ada toilet yang bisa saya gunakan? Anda bisa bayangkan sendiri. Bagi Anda yang bukan seorang SCI saja akan tersiksa dengan datangnya diare yang harus bolak-balik ke toilet, terlebih saya seorang SCI yang membutuhkan toilet aksesibel untuk memenuhi hak dasar saya.

Seorang SCI membutuhkan alat bantu kursi roda dalam mobilitas sehari-harinya. Untuk itu, kondisi toilet harus memenuhi standar ruang yang aksesibel. Di Indonesia, undang-undang yang mengatur gedung dan sarana publik sudah sangat lengkap, dimana toilet adalah bagian dari semua gedung ataupun sarana publik. Misalnya, UU no 28 tahun 2002 Tentang Bangunan Publik, Permen PU No. 30/PRT/M Tahun 2006 Tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas Bangunan Gedung dan Lingkungan, PP no.36 tahun 2005 Tentang Bangunan Gedung, PERDA DKI no 7 tahun 2010 Tentang Bangunan Gedung.

Tapi mana pelaksanaannya?

Selama ini,  untuk mengatasi sulitnya mendapatkan toilet bersih dan aksesibel, setiap kali saya bepergian ke tempat publik seperti tempat-tempat rekreasi, stasiun atau gedung publik lainnya, saya akan mengurangi kadar minum untuk menghindari aktivitas BAK sekalipun saya tahu dampak dari mengurangi minum akan terjadi dehidrasi dan merusak ginjal, namun karena khawatir tidak dapat menunaikan kebutuhan buang air, maka saya harus menanggung resiko dehidrasi dan kerusakan ginjal.

10 Desember adalah hari HAM, tetapi apakah kita menyadari bahwa aktifitas buang air kecil dan buang besar adalah bagian dari hak paling mendasar? Apakah kita akan terus membiarkan pelanggaran HAM terus terjadi tanpa disadari bahwa kita menjadi bagian dari pelanggar HAM dengan membiarkan puluhan ribu pengguna kursi roda untuk secara perlahan mati karena terlanggar hanya untuk ke toilet?

Anda bisa menandatangani petisi saya di link berikut : http://change.org/ToiletUntukSemua

Atau bisa langsung klik pada slide gambar di atas.

Terima kasih atas dukungan Anda.

Ayo kita dukung bersama,

Salam Inklusif!

The Right To Read


Oleh: Aria Indrawati

budaya-membaca-buku1

Ilustrasi
Sumber foto: http://bocahbancar.wordpress.com

Mendapatkan informasi adalah salah satu kebutuhan kita semua yang saat ini hidup di era informasi ini. Bahkan, hal ini sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok kita, sama seperti kita butuh makan dan minum. Ada slogan yang diyakini sebagian orang, ”Siapa yang memiliki  informasi, ia akan memegang kendali.” Salah satu cara strategis untuk mendapatkan informasi adalah dengan ”membaca”.

Di era teknologi ini bahan bacaan dapat kita peroleh dalam format yang berfariasi. Format audio, atau audio visual, format elektronik, dan tentu masih ada format cetak.

Salah satu kelompok yang hingga kini masih terpinggirkan dalam mengakses informasi adalah para tunanetra.  Teknologi juga telah dikembangkan  untuk membantu tunanetra agar dapat mengakses informasi. Ada sistem produksi buku Braille yang menggunakan perangkat lunak Braille converter. Ada buku audio digital yang  sangat mudah diakses tunanetra. Ada design website  yang aksessibel guna memudahkan tunanetra mengakses informasi dalam format elektronik di internet. Baca lebih lanjut

Keluarnya SP di Masakapai Belum Berakhir


Dalam sebuah perjalanan ke daerah, seorang kawan menceritakan pengalamannya menggunakan pesawat City Link. Ia berangkat bertiga dengan salah satunya nondisabilitas. Teman saya menggunakan kursi roda dan rekan teman satunya menggunakan tongkat.
Selepas ia checkin, ada seorang petugas yang membantu, namun ditengah perjalanan sipetugas menyampaikan bahwa nanti ia harus menandatangani surat pernyataan. Mendengar hal itu kawan saya hanya tersenyum sambil pura-pura bertanya maksud dari isi pernyataan tersebut . Petugas tersebut dengan jujur mengatakan bahwa perusahaan tidak bertanggungjawab apabila “bapak” mengalami kerugian/kecelakaan selama penerbangan.
Baca lebih lanjut

Kado di Hari Internasional Penyandang Disabilitas 2012


3 Desember merupakan hari istimewa bagi sebagian penyandang disabilitas di belahan dunia setelah PBB menetapkannya menjadi Hari Internasional Penyandang Disabilitas. Tema yang diusung pun setiap tahun berbeda-beda guna mengangkat isu yang sedang berkembang. Hari Internasional Penyandang disabilitas tahun ini adalah Menghilangkan hambatan guna mewujudkan masyarakat yang inklusif dan aksesibel untuk semua”. Peringatan ini pun seharusnya berdampak pada perubahan sikap dan perilaku pemerintah dan masyarakat di tanah air bagaimana menghargai, menghormati, melindungi hak-hak penyandang disabilitas itu sendiri.

Sungguh ironi ketika hingar bingar kemeriahan peringatan ada banyak penyandang disabilitas nan jauh di pelosok sana belum memahami hak mereka, belum mengerti bahwa hak mereka sudah dijamin ditingkat Internasional dan Nasional bahkan sudah ada di beberapa daerah yang memiliki peraturan yang mengatur hak-hak penyandang disabilitass.

Di luar sana masih banyak yang mengalami kesulitan baik dalam hal ekonomi, pendidikan dan juga kesehatan. Saya punya kawan yang  kebingungan mencari kerja, saya masih punya kawan yang kesulitan mendapatkan pengobatan tulang belakangnya untuk dioperasi, keluarganya tidak sanggup membiayai pengobatan yang begitu mahal. Ketika berusaha mengajukan jaminan kesehatan, sulitnya minta ampun sampai akhirnya ada pihak LSM yang mau membantu carikan jalan keluar untuk mengoperasinya. Kawan saya terbaring 3 tahun lebih di rumahnya seperti yang saya alami 10 tahun lalu tanpa ada pihak pemerintah yang peduli.

Di tanggal 3 Desember itu pula saya menerima sebuah surat melalui sebuah media yang isinya sangat membuat saya marah, kesal dan ingin menangis rasanya. Rakyat jelata di tanah air ini kerap menjadi korban keganasan, keserakahan orang-orang yang punya kekuatan baik uang maupun politik.

Melalui blog ini saya sampaikan apa yang menjadi masalah dari salah seorang penyandang disabilitas yang menyandang paraplegia.

Kamir Subroto
Kami Cacat Fisik tapi tidak Cacat Semangat Berjuang !
Kp.Gudang RT03/RW07 Kelurahan Ranggamekar Kecamatan
Bogor Selatan Kota Bogor
http://www.facebook.com/kamir.subroto
Email: kamir.subroto@gmail.com

“Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.”(Ayat 2 Pasal 27 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia) Baca lebih lanjut

Surat pernyataan Sakit kembali muncul di Lion Air


Sore kemarin seorang kawan pengguna kursi roda melakukan perjalanan dari Denpasar, Bali menuju Jakarta. Pada saat check-in prosesnya lancar-lancar saja bahkan dibantu petugas untuk mendapatkan boarding pass. Seusai check-in dia langsung digiring ke ruang tunggu khusus penyandang cacat begitu tertera di papan nama menjelang pintu masuk.
Dua orang petugas perempuan mendampinginya menuju ruang tunggu. Setelah di dalam ruang tunggu, seorang petugas perempuan menyodorkan surat pernyataan yang sering kali disodorkan kepada penyandang disabilitas. Dengan halus teman saya menolak untuk menandatangani dengan menjelaskan bahwa ada perbedaan antara seorang yang sakit dengan seorang yang menyandang disabilitas.
Setelah dijelaskan petugas perempuan tersebut berlalu keluar ruangan dan tak berapa lama datang dengan dua orang petugas laki-laki. Setelah berhadapan dengan kawan tersebut, mereka berdua kembali meminta rekan saya untuk menandatangani surat pernyataan. Namun kawan saya tetap pada pendiriannya untuk tidak menandatangani surat pernyataan tersebut.
Setelah mereka berempat merasa tidak berhasil. Akhirnya mereka berlalu keluar ruangan.
Kawan saya tetap menunggu apakah gerangan yang akan mereka lakukan untuk mendapatkan tandatangannnya. Namun, sampai waktu boarding tiba ia tidak lagi diminta untuk menandatangani surat pernyataan sakit tersebut.
Belajar dari pengalaman kawan di atas sebaiknya rekan-rekan penyandang disabilitas harus berani menolak dan memberikan pengertian kepada petugas yang tidak mengerti apa yang sedang mereka lakukan dengan alasan menjalankan prosedur perusahaan.
Semoga kedepannya semua maskapai dapat memberikan pemahaman kepada para petugas di lapangan mengenai apa itu disabilitas.

Posted from WordPress for Android

Desain Surat Suara Pilgub DKI


Beberapa hari lalu saya menyaksikan sosialisasi dan simulasi Pilgub DKI yang diselenggarakan KPU DKI bekerjasama dengan PPUA Penca.
Dalam kesempatan itu saya menyempatkan diri untuk berbincang dengan beberapa rekan tunanetra. Dari praktek membaca braile template (alat bantu coblos/pilih) sudah cukup baik, namun ada satu kendala bagi mereka adalah belum adanya tanda khusus di salah satu sisi surat suara yang dapat membedakan antara ujung atas dan ujung bawah.
Pada Pemilu Kada 2007 lalu, KPUD secara tidak sengaja mencetak hologram di sudut kanan atas surat suara yang akhirnya dijadikan patokan para tunanetra dalam memasukkan surat suara ke dalam template.
Template merupakan alat bantu pilih bagi para tunanetra yang akan memberikan hak pilihnya secara mandiri di TPS.
Satu tanda kecil pada surat suara yang bisa diraba sangatlah membantu para tunanetra dalam memberikan hak pilihnya. Kemandirian dalam memilih menjadi dambaan mereka guna menjaga kerahasiaan pilihannya.
Mereka masih belum tahu apakah pada tanggal 11 Juli nanti akan ada hambatan dalam memasukkan surat suara atau tidak. Semoga ada kemudahan bagi teman-teman tunanetra.

Posted from WordPress for Android

Busway, Masihkah Aman untuk Penyandang Disabilitas?


Beberapa hari lalu terjadi kebakaran armada busway di koridor 1 , Blok M – Kota. Bersyukur tidak terjadi korban jiwa dalam kecelakaan tersebut, namun trauma dari para penumpang tentulah ada. Kekhawatiran akan terjadinya hal serupa pasti menghantui setiap penumpang yang akan dan tengah menumpamg busway mengingat kebakaran armada busway bukanlah untuk pertama kalinya bahkan hampir setiap bulan terjadi.
Kekhawatiran tersebut menjadi kekhawatiran saya sebagai pengguna kursi roda yang kerap bepergian menggunakan sarana transportasi busway. Ketika salah satu armada busway berpenumpang terbakar dan di dalamnya ada pengguna kursi roda atau tunanetra, seberapa siapkah petugas melakukan evakuasi terhadapnya?  Akankah penumpang lainnya peduli terhadap keberadaan penumpang berkursi roda dan atau tunanetra?
Dalam keadaan situasi normal pun banyak petugas busway yang tidak tahu bagaimana cara membantu para Penyandang disabilitas. Janga-jangan, dalam situasi darurat akan terjadi kebingungan bahkan ia akan mengevakuasi dirinya sendiri. Semoga hal ini bisa dijawab dikemudian hari oleh para provider operator busway dan juga BLU Transjakarta.

Posted from WordPress for Android