Kawan saya Jaka dalam milistnya menyampaikan informasi perlakuan tidak adil dari Merpati Airlines. Pada saat ia check in tidak ada yang mengira bahwa ia adalah seorang tuna netra. Namun, ketika ia sudah berada di dalam pesawat, barulah seorang ground staff menghampiri dengan bertanya kepada pendampingnya, “Pak, apakah teman Bapak itu tuna netra?”Jaka langsung menjawab, “Lha, kan dah jelas kalo saya tunanetra….”
Jaka bercerita, petugas itu pergi dan kembali dengan sebuah surat yang harus ia tanda tangani. Jaka tidak serta-merta menanda tanganinya, melainkan ia meminta untuk dibacakan terlebih dahulu. Karena pesawat sudah mau take off, petugas tersebut tidak sempat mengambilnya lagi dari tangan Jaka. Sekarang Jaka memegang hard copy surat pernyataan bagi penyandang disabilitas ketika akan menggunakan pesawat dalam bepergian.
Apa yang dialami Jaka teman saya lebih beruntung dibanding apa yang dialami oleh Mbak Aria dari Mita Netra (Saya membaca blognya Mas Ramaditya yang menceritakan pengalaman Mbak Aria saat hendak pulang ke Jakarta dari Banjarmasin). Keberangkatan pesawat sampai mundur dikarenakan perdebatan Mbak Aria dengan petugas maskapai yang setengah memaksa menanda tangani surat pernyataan. Mbak Aria tidak mau membubuhkan tanda tangan dalam surat pernyataan, karena ia bukanlah orang sakit.
Sama seperti saya waktu dulu pergi menggunakan maskapai nasional, setiap penyandang disabilitas diharuskan menanda tangani surat pernyataan bahwa pihak maskapai tidak bertanggung jawab atas keberadaan penumpang penyandang disabilitas, jelas ini tidak adil. Pihak maskapai menganggap penyandang disabilitas adalah orang sakit, padahal kita tidak sedang mengalami sakit. Anehnya, pada saat saya pergi ke Taiwan menggunakan China Airlines, saya tidak diminta menanda tangani apapun. Padahal saya pergi hanya seorang diri dan menggunakan kursi roda. Mungkin hanya maskapai nasional yang masih berlaku diskriminatif terhadap penyandang disabilitas. Entah mulai kapan dan dari mana semua ini akan berubah?